Waktu boleh saja berlalu, namun ingatan akan sore kelam di akhir September 2018 tidak akan pernah terhapus dari benak masyarakat Sulawesi Tengah. Tepat hari ini, Senin, 28 September 2026, delapan tahun sejak gempa bumi Magnitudo 7,4, tsunami dahsyat, dan likuefaksi masif menghantam Palu, Donggala, dan Sigi pada 28 September 2018 “Sesar Palu Koro”.
Lebih dari sekadar seremonial tahunan, momentum ini menjadi gerakan “Melawan Lupa” sebuah refleksi mendalam untuk menjaga ingatan publik tetap hidup, menghormati ribuan nyawa yang hilang, dan merawat kesiapsiagaan bencana yang tidak boleh mengendur.
1. Detik-Detik yang Mengubah Garis Sejarah
Bencana beruntun (triple disaster) yang dipicu oleh pergeseran Sesar Palu Koro itu terjadi saat warga tengah bersiap menyambut malam akhir pekan. Hanya dalam hitungan menit setelah guncangan hebat melumpuhkan kota, gelombang tsunami setinggi hingga 7 meter menyapu pesisir Teluk Palu, menghancurkan Jembatan Palu IV yang ikonik “Jembatan kuning Palu”.
Di saat yang bersamaan, fenomena mengerikan likuefaksi terjadi di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Tanah padat seketika mencair, berubah menjadi lumpur hidup yang menelan seluruh komplek perumahan beserta ribuan penghuninya ke dalam perut bumi.
Tragedi ini tercatat merenggut sedikitnya 4.340 korban jiwa, menjadikannya salah satu bencana paling kompleks dan mematikan di Indonesia pada abad ini.
2. Merawat Ingatan di Atas Tanah yang Lenyap
Kawasan eks likuefaksi Petobo dan Balaroa kini telah ditetapkan sebagai zona merah atau kawasan terlarang untuk dihuni kembali. Tempat-tempat yang dulunya merupakan pemukiman padat tersebut kini telah bertransformasi menjadi ruang terbuka hijau dan monumen memorial bencana.
Setiap tahunnya, tempat ini selalu dipenuhi oleh para penyintas dan keluarga korban. Mereka datang membawa bunga, memanjatkan doa di atas hamparan tanah yang kini sunyi, mengenang anggota keluarga yang jasadnya tidak pernah ditemukan dan terkubur abadi di bawah material likuefaksi.
Bagi para penyintas, melawan lupa adalah cara mereka untuk tetap terhubung dengan orang-orang tercinta yang hilang dalam sekejap mata.
3. Pembangunan Kembali dan Tantangan Masa Depan
Setelah melewati fase rekonstruksi panjang, Kota Palu kini telah bersolek kembali. Ribuan warga terdampak telah direlokasi ke berbagai komplek Hunian Tetap (Huntap) yang dibangun di zona aman seperti kawasan Tondo dan Duyu. Infrastruktur kota yang sempat hancur total perlahan telah pulih.
Namun, gerakan melawan lupa bukan hanya tentang meratapi kesedihan masa lalu, melainkan tentang membangun masa depan yang lebih aman.
Para pakar kebencanaan mengingatkan bahwa Sesar Palu Koro adalah siklus geologi yang akan terus aktif “Sesar Palu Koro”. Edukasi mitigasi bencana sejak dini kepada generasi muda, pengetatan tata ruang wilayah, dan pemeliharaan sistem peringatan dini (early warning system) menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar agar tragedi serupa tidak kembali memakan korban di masa depan.
Delapan tahun telah berlalu sejak tanah Palu berguncang, airnya menggulung, dan buminya mencair. Palu hari ini adalah bukti dari ketangguhan (resilience) sebuah bangsa yang bangkit dari puing-puing kehancuran, seraya terus berbisik kepada sejarah: Kami tidak akan pernah lupa.(*)





