Hendly Mangkali: Di Antara Jeruji, Kritik, dan Jalan Sunyi Kemanusiaan

PAGI 5 Juli 2026 itu datang tanpa gemuruh. Tidak ada sambutan meriah, tidak pula pernyataan panjang di hadapan publik. Hanya langkah kaki yang terdengar pelan saat seorang lelaki keluar dari gerbang Lapas Petobo membawa satu cerita yang belum benar-benar selesai.

Bagi Hendly Mangkali, hari itu bukan sekadar kebebasan, melainkan penanda: sebuah titik jeda di antara masa lalu yang masih diperdebatkan dan masa depan yang belum sepenuhnya terbaca. Satu bulan menjalani hukuman dalam perkara Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah menempatkan namanya dalam pusaran perhatian. Ia dibicarakan, diperdebatkan, bahkan dipertanyakan. Namun ketika pintu lapas terbuka, Hendly tidak memilih menjawab semua itu dengan pembelaan.

iklan-1
iklan-1

“Saya tidak terlalu ingin menjelaskan apa pun ke publik. Bagi saya, yang penting sekarang adalah bagaimana saya kembali bermanfaat,” ujarnya singkat.

Kalimat itu seperti menjadi arah dari langkah-langkah berikutnya.

Di balik identitasnya sebagai Pimpinan Redaksi Beritamorut.com, Hendly bukan figur baru dalam ruang publik. Ia dikenal sebagai jurnalis dengan sikap kritis—tulisannya tajam, kadang memantik perdebatan, bahkan tidak jarang memicu gesekan. Ia terbiasa berdiri di titik yang tidak selalu nyaman, menyuarakan hal-hal yang sering dihindari.

“Saya hanya menulis apa yang menurut saya penting untuk diketahui publik. Kalau itu kemudian menimbulkan pro dan kontra, itu bagian dari konsekuensi,” katanya.

Namun, di luar sorotan itu, ada sisi lain yang berjalan nyaris tanpa suara. Dalam situasi darurat, di tengah kebutuhan kemanusiaan yang mendesak, Hendly hadir sebagai Koordinator Relawan Ambulans Sulawesi Tengah bukan sebagai jurnalis, melainkan sebagai bagian dari mereka yang bekerja langsung di lapangan.

“Kalau di ambulans, tidak ada waktu untuk berpikir soal siapa kita. Yang ada hanya bagaimana orang bisa tertolong.”

Peran itu dijalaninya dalam diam—sunyi, cepat, dan sering kali luput dari perhatian. Mungkin karena itu, langkah pertamanya setelah bebas terasa seperti kelanjutan dari jalan yang sudah lama ia tempuh, bukan sebagai awal yang dibuat-buat.

Beberapa hari setelah keluar dari Lapas Petobo, Hendly memilih berada di TPA Kawatuna. Ia datang tanpa pengumuman, tanpa narasi pembelaan. Hanya membawa bantuan sederhana dan waktu untuk dibagikan. Ia duduk bersama anak-anak, bercengkerama, tertawa membaur tanpa jarak.

“Anak-anak itu tidak pernah bertanya masa lalu kita. Mereka hanya melihat bagaimana kita hadir di depan mereka hari ini,” ujarnya.

Langkah itu berlanjut ke Panti Asuhan Imanuel Palu. Di ruang yang sederhana itu, label “mantan narapidana” seolah kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah kehadiran tentang seseorang yang datang, mendengarkan, dan mencoba berarti.

“Saya ingin memulai lagi dari hal-hal kecil. Dari berbagi, dari hadir,” katanya.

Dari titik itulah, langkahnya meluas, perlahan tetapi pasti. Melalui media sosial, Hendly mulai menggalang donasi untuk membantu penyediaan pasir bagi pembangunan rumah ibadah di Kabupaten Morowali Utara. Pilihannya sederhana, tetapi pesannya jelas: rumah ibadah, apa pun latar belakangnya, adalah ruang yang layak diperhatikan bersama.

“Harusnya semua rumah ibadah, terutama di desa lingkar tambang itu bagus. Itu tempat doa-doa dipanjatkan,” ujarnya.

Ia tidak membatasi pada satu kelompok. Bantuan itu ditujukan untuk masjid dan gereja sebuah sikap yang mencerminkan keyakinannya bahwa kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh sekat.

“Kalau kita bicara kemanusiaan, seharusnya tidak ada sekat. Semua orang berhak punya tempat yang layak untuk berdoa.”

Dari sana, pandangannya bergerak lebih jauh, menyentuh persoalan yang selama ini juga ia soroti sebagai jurnalis. Ia beberapa kali mengkritik aktivitas pertambangan, terutama terkait tanggung jawab sosial di wilayah lingkar tambang. Baginya, pembangunan tidak boleh berhenti pada angka produksi dan pertumbuhan ekonomi semata.

“Daerah tambang itu menghasilkan banyak. Tapi jangan sampai masyarakat di sekitarnya justru tidak merasakan dampak yang adil, termasuk dalam hal fasilitas sosial seperti rumah ibadah,” katanya.

Sikapnya ini, seperti tulisan-tulisannya, tidak selalu diterima dengan mudah. Ada yang melihatnya sebagai bentuk keberanian, ada pula yang menganggapnya terlalu keras. Kontroversi pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan namanya.

Namun di tengah semua itu, ada pola yang tetap terjaga.

Ia terus hadir dalam kerja-kerja sosial. Ia tetap mengorganisir relawan. Ia tetap menggalang bantuan. Ia tetap memilih untuk terlibat.

“Kalau hanya bicara tanpa melakukan apa-apa, rasanya tidak cukup. Harus ada tindakan.”

Seolah-olah, bagi Hendly, kritik dan aksi bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari sikap yang sama—cara untuk tetap berpihak pada hal yang ia yakini.

Ia mungkin bukan sosok tanpa cela. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ia juga harus menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihannya. Namun justru di situlah kompleksitasnya terbentuk: di antara kritik yang ia suarakan dan tindakan yang ia jalankan.

“Saya tidak bilang saya sempurna. Tapi saya selalu berusaha untuk tetap berguna,” ujarnya.

Publik boleh mengingat masa lalunya. Publik juga berhak menilai langkah-langkahnya. Tetapi bagi mereka yang pernah melihatnya bekerja di balik sirene ambulans, atau menyaksikan kehadirannya di tengah anak-anak panti, Hendly Mangkali bukan hanya tentang kontroversi.

Ia adalah cerita tentang seseorang yang, setelah jatuh, memilih untuk tetap berjalan dan lebih dari itu, berjalan ke arah orang lain.

“Kalau hidup ini bisa bermanfaat untuk orang lain, itu sudah cukup,” ucapnya pelan.

Dan mungkin, di situlah seluruh cerita ini bermuara pada langkah-langkah kecil yang tidak selalu terlihat, tetapi terus bergerak. Sebuah cara sunyi untuk menulis ulang diri, bukan dengan kata, melainkan dengan tindakan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *