PASANGKAYU – Efek kemarau panjang gara-gara El Nino benar-benar mulai terasa di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Nggak tanggung-tanggung, sekarang ada sekitar 42.200 warga atau 11.488 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 17 desa dan kelurahan terancam krisis air bersih karena sumur mereka mulai kering.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan kalau curah hujan yang minim bikin cadangan air tanah menipis drastis. Sumur gali yang biasanya jadi tumpuan warga sehari-hari sekarang kondisinya memprihatinkan. Kebanyakan cuma menyisakan sedikit air yang keruh, bahkan banyak yang sudah mengering total.
Kondisi ini jelas bikin pusing masyarakat. Jangankan buat mencuci pakaian, untuk kebutuhan pokok seperti minum dan memasak saja susahnya minta ampun. Mau nggak mau, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam buat membeli air bersih kemasan atau jeriken untuk bertahan hidup. Beli air harian begini otomatis bikin pengeluaran dapur jadi membengkak.
Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, menyebutkan kalau ancaman kelangkaan air ini punya potensi meluas ke wilayah yang lebih besar. Setidaknya ada 12 kecamatan, 59 desa, dan 4 kelurahan di Pasangkayu yang saat ini ikut diwaspadai bakal terdampak.
Melihat kondisi darurat ini, BPBD Sulbar langsung bergerak cepat dan berkoordinasi dengan Pemkab Pasangkayu. Langkah ini diambil atas instruksi langsung dari Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, dan Sekda Junda Maulana, yang meminta agar bantuan air bersih segera disalurkan ke lapangan secara tepat sasaran tanpa bertele-tele.
Saat ini, kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak swasta, hingga personel TNI-Polri sudah mulai berjalan. Beberapa truk tangki air bersih mulai dikerahkan ke titik-titik yang paling parah terdampak untuk membagikan air gratis. Warga juga diimbau untuk lebih hemat dan bijak menggunakan sisa air yang ada selama musim kemarau ini belum berakhir.(*)








